Mirror world : the excitement of being captured

Bill Mitchell (City of Bits, 1996) dan Bill Gates (Road Ahead, 1996) dari kalangan geek, serta Manuel Castells (Rise of Network Society, 1996), Peter Calthorpe (Regional City, 2001) dari kalangan social science dan planner sama-sama punya visi tentang apa yang dinamakan kota – lingkungan binaan (built environment) dengan gelombang ke-empat (teknologi informasi) sebagai tulang punggungnya. Bagaimana sih wujud kota masa depan? Jika koneksi internet sudah memungkinkan segala bentuk komunikasi fisik secara synchronous, apakah masih signifikan yang dinamakan sense of place? Jika segala informasi geografis sudah bisa divisualisasikan secara apik, cantik, 3D di depan mata, apakah masih relevan image of the city? Suatu saat ketika saya berada di Lisabon, misalnya saya tidak harus bingung dan kesasar, karena segala pelosok kota sudah lebih dulu saya telusuri lewat next-gen Google Earth + Streetview atau Microsoft Virtual Earth + Photosynth dari tempat saya di Bandung. Kita, para perancang dan perencana bisa menggunakan data-data geologi-klimatologi secara kronologis menggunakan media Google Earth untuk membuat prakiraan dan sekaligus perencanaan yang lebih matang terhadap suatu kawasan dengan segala pertimbangan bencana alam.
Suatu saat kolega saya mempertanyakan tentang mengapa banyak Cyberpark, Sciencepark yang tidak menjadi lingkungan seperti yang direncanakan semula. Cyberjaya-Malaysia hanya cocok untuk kerja dan menjadi dead town di malam hari (ini kata dia, PhD-nya tentang Hightech Park), Tsukuba-Jepang sama saja, hanya ditolong oleh keberadaan University of Tsukuba yang memang besar. Silicon Valley di San Fransisco saya pikir tidak bisa dibandingkan dengan kedua contoh sebelumnya. Yang satu direncanakan (oleh arsitek, planner), yang satu lagi tumbuh tanpa direncanakan (oleh arsitek, planner). Ternyata dalam dua kasus, perencanaan kota modern memang masih menemui kendala dalam memfasilitasi budaya berbasis teknologi informasi ini. Apalagi kota baru atau kawasan baru yang bertema atau ditujukan untuk so called : IT research and development (jadi ingat BaliCamp dan BHTV ).
Secara teori, mungkin ada yang sama. Yang diwadahi adalah sama-sama manusia-komunitas. Tapi manusia dengan budaya IT mungkin saja adalah spesies baru yang belum sepenuhnya dimengerti oleh arsitek dan perencana. Apakah geek butuh open space untuk kongkow-kongkow sekitar jam 9.00-10.00? Seperti yang biasa kita lihat di kantor-kantor sebelum working hours (padahal itu di dalam working hours!). Apakah geek butuh taman yang indah, penuh pemandangan – architecturally compelling environment?
Kita semua tahu bahwa geek juga manusia dan butuh sarana rekreasi, bahkan di dalam lingkungan kerja (kata kunci cybercity : work=home). Google punya playground di dalam kampus mereka, demikian pula dengan Microsoft, Adobe. Semua itu-pun sudah difasilitasi pada beberapa kota baru dengan konsep cyber. Tapi karakter kota atau karakter lingkungan belum ada. Still dead town, still empty.
Saya punya anggapan bahwa yang tidak/belum dicapai dari rancangan-rancangan tersebut di atas adalah sense of neighborhoodness (ya, balik ke tahun 70-an). Mungkin saja ya, geek itu nggak begitu suka sosialisasi, nggak suka nongkrong, kalaupun nongkrong, mereka homogen. Entah geek atau bukan, kalau budaya IT (vritual netwoork-internet) sudah sedemikan kuat embedded di dalam kehidupan sehari-hari, apa iya masih ada arisan, atau anak nongkrong di pinggir jalan ?. That’s scary though, but it is going to be true.
Saya belum menemukan sumber atau metode atau sistem yang merupakan sumbangsih arsitektur dalam turut membentuk peradaban baru dengan spesies baru ini dengan tetap mengedepankan sisi humanis, tanpa takut tidak sempurna (imperfect reality versus hyper reality), tanpa larut dalam dorongan budaya teknologi informasi yang semakin menggiring kita ke dunia virtual – I mean, our ALL real life.
Kita sudah lihat SecondLife, tapi itu tetap dunia virtual-khayal-fantasi-pelarian . Tapi kalau suatu saat GE-SV atau MSVE di atas semakin berkembang dengan teknologi photogrammetry, CAD- GIS, maka seluruh dunia fisik kita ADA di dalam dunia virtual. It’s mirroring our world.
Apakah ini juga Apisatif ? (bahasa Arswendo untuk kebablasan..wah mungkin saya salah kutip..habisnya aneh). Memang kodratnya budaya ini adalah in the speed of light. Tiap waktu ada inovasi dan arsitektur selalu berusaha memahami dulu…

Tapi tenang, di Bandung masih macet dan masih banyak pengamen. Kadang saya masih men-syukuri atas ketidaksempurnaan dunia kecil bernama Bandung dan Indonesia.
Belanda (saya pikir) masih jauh..lah…

Advertisements

About this entry