Game Enthusiast

Saya dari kecil suka sekali main video game. Saya masih ingat betul di pertengahan 80-an ketika saya masih SD, saya suka bersepeda ke tempat bapak-bapak yang menyewakan ‘gamewatch‘ (bahasa kita-kita di Singaraja waktu itu, gembot).Kalau tidak salah dulu sewanya 100 perak sampai game over. Masih ingat juga game-gamenya yang melegenda : karate, donkey-kong, cowboy. Haha. Saya pernah satu round sampai tiga kali tamatin cowboy.
Habis game-watch, saya kecanduan arcade video-game, apa ya, istilahnya dulu, ding-dong.(sampai abad-21 ini di Jepang masih penuh dengan Pachinko). Wah, saya hampir tiap hari sepulang sekolah, bersepeda (lagi-lagi) menghabiskan bekal sekolah di tempat ding-dong. Saya ingat, pernah saya menabung sampai 5000 perak untuk dihabiskan di ding-dong yang waktu itu juga tarifnya 100 perak sampai ‘game-over‘. Sampai-sampai suatu malam saya terbayang-bayang para tokoh ninja terbang-terbang di atas kamar saya (what a fantasy). Begitu tergila-gilanya hingga saya bertekad suatu hari nanti saya harus punya mesin ding-dong sendiri di rumah sendiri. Saya sampai menabung hingga..e..50 ribu dari uang bekal saya selama berbulan-bulan. Tapi akhirnya saya menyerah (mungkin terlalu lama menunggu hingga bisa beli mesin dindong), akhirnya habis di…dingdong lagi.


Hingga mahasiswa saya masih suka dingdong. Tempat favorit saya di alun alun, di bawah sebuah department store besar (saya lupa namanya, sudah lama sekali ). Sekarang tempat itu sudah tutup. Hehe, saya tidak malu sih cerita ini soalnya saya menikmati. Kadang-kadang di akhir minggu saya menghabiskan 5000-10000 perak. Masih, tarifnya masih 100 perak. Mungkin karena pengaruh game dan belum bisa punya komputer, selama mahasiswa saya suka
nongkrong di lab komputer di kampus saya. Kalau saya ingat-ingat, kecintaan dan ketertarikan saya terhadap hal-hal yang berbau visual dan virtual bermula dari game.
Tahun 1995, Playstation dari Sony muncul dan seketika mengubah peta video game dunia yang semula dikuasai Nintendo dan Sega. Saya kembali teringat betapa saya ingin memiliki sebuah mesin game sendiri. Hingga ketika saya bisa cari uang sendiri baru di tahun 1999, saya membeli PlayStation pertama saya (cihuyyy). Itupun saya belum punya televisi sendiri. Memang aneh deh, punya PS tapi ndhak punya TV. Banyak pengalaman bermain game di PS. Mulai dari genre game yang variatif, grafis yang memukau (di jaman itu ketika Solid SnakeSquall Leonhart begitu membiusnya) hingga jalan cerita yang tidak membosankan.
Paralel dengan itu, game di komputer juga mulai menunjukan kerakusannya terhadap memori dan harddisk (hingga sekarang).
Tahun 2003, sepulang saya dari Jerman (di sanapun saya belajar tidak jauh-jauh, VRML ) saya bisa mendapatkan Playstation2.Waktu itupun yang mendorong saya membeli konsol ini adalah karena Son of Liberty, yang boleh dibilang salah satu game terbaik di PS2. Perubahan paling mencolok tentu saja ada di kualitas visual yang belum pernah ada di Playstation  generasi sebelumnya, jalan cerita yang lebih lama (karena PS2 menggunakan DVD yang memiliki kapasitas lebih besar). Hingga saya menikah, saya beruntung punya istri yang bisa mengerti dan kadang-kadang ikut bermain game bersama.(remember when we bought two laser pistols for Time Crisis?) hehehe. Kadang saya berpikir juga, Am I some kind of weirdo?, I am game addicted.
Sampai di akhir 2007 ini, saya bisa mencoba game Blu-ray di Playstation3. Cari-cari di Akihabara, akhirnya ada juga yang jual game secondhand tapi kualitas masih bagus.Game ini judulnya Encharted : Drake Fortune yang kalau di Jepang dialihbahasakan menjadi Treasure of El Dorado.Saya pun baru bisa membeli gamenya saja, Playstation3 dan HDTVnya numpang di lab, haheha.
Kesan pertama untuk Blu-ray game di PS3 adalah Awesome! Visualnya hyperealistis. Di PS2 kita bisa mendapati efek air dengan riak dan refleksi seperti pada Prince of Persia atau God of War, tapi di PS3 kita bisa merasakan ‘basah’. Ada yang bilang kalau di XBOX360 game looks incredibly great but in PS3 it looks real.
Dynamic lighting, motion blur, volumetric fog dan banyak jargon virtual reality yang bisa diwujudkan di PS3. Belum lagi efek suara yang bisa sampai 7.1. Benar-benar surga buat game enthusiast, entah di beberapa tahun mendatang, inovasi apa yang bisa dinikmati oleh pecandu game macam saya.
Can’t wait the future!

Advertisements

About this entry