Tidak perlu(kah) CAD diajarkan?

Dosen saya pernah mengatakan kalau CAD tak lebih seperti halnya ‘Rotring‘, pena tinta yang sudah sangat familiar di kalangan mahasiswa arsitektur di tahun 90-an. Mungkin sekarang masih dipakai. Maksudnya yang saya tangkap waktu itu adalah CAD dengan ‘D’- Drafting. Jadi bukan Computer Aided Design, melainkan Computer Aided Drafting.Tidak ada aktivitas desain dengan komputer. Komputer hanya perpanjangan tangan dengan menambahkan aspek ketelitian dan presisi dalam menggambar – bukan mendesain. Setidaknya di dunia arsitektur – ITB – Indonesia.
Selama sepuluh tahun kemudian paradigma CAD yang sama masih berlaku dan masih saya ajarkan di sekolah saya.Selama itu pula banyak lulusan yang telah malang-melintang di dunia profesi arsitektur, di Indonesia maupun di luar negeri. Lulusan kami unggul dalam penguasaan komputer terutama CAD. Begitu sebagian testimonial para bos alumni kami.
Lama-lama saya merasa ada yang tidak berkembang dalam persepsi saya tentang CAD. Saya tidak yakin bahwa di luar sana CAD juga hanya sebagai ‘Rotring‘ saja. Bagaimana mungkin Reischtag dibuat tanpa CAD? atau lebih ekstrim,  bagaimana membuat potongan melintang Bilbao Museum tanpa CAD? Lebih dari pada sekedar menjadi perpanjangan tangan arsitek (drafting), CAD membuka banyak peluang dan kemungkinan mencipta ruang tiga dimensi yang belum pernah atau tidak bisa dibayangkan oleh arsiteknya sebelumnya. Itulah salah satu hakikat CAD (design) yang sebenarnya.
Namun hal itu di dunia nyata (baca : di sekolah saya) tanpaknya adalah kondisi yang harus diperjuangkan. Mungkin di sekolah-sekolah arsitektur lainnya juga sama? Pertanyaannya adalah bagaimana metode pengajaran CAD sehingga kualitas desain meningkat?. Isu yang selama ini berkembang adalah CAD membuat mahasiswa menjadi malas, serba instan dan berpikir linier, kualitas desain tidak berkembang dan sebagainya yang mencerminkan bahwa aplikasi konsep CAD pada sekolah kami baru sampai pada kulitnya saja.
Saya pikir mungkin usaha kami selama ini mengajarkan CAD kurang keras dan atau kurang tepat. Selama ini kami sibuk mengajarkan skill dan teknik menggambar. Itupun dalam waktu yang luar biasa singkat dan tidak mungkin mencakup seluruh kemampuan CAD. Itupun ditambah dengan kondisi peralatan lab yang terbatas dan materi CAD hanya ada pada tahun pertama kuliah. Ajaib memang kalau ada mahasiswa di tugas akhir yang bisa menggunakan CAD dengan baik dan hasil desainnya baik.
Kami masih jalan di tempat sementara dunia sudah lari.
Ke depan, saya punya beberapa rencana dalam mengubah paradigma CAD tidak hanya sebagai perpanjangan tangan, tetapi juga perpanjangan mata dan otak. Mata kuliah komputer tetap perlu dan HARUS, tetapi kontennya tidak lagi skill dan teknik. Dunia arsitektur semakin berkembang, praksis arsitektur semakin tergantung dengan disiplin lain, komputer semakin cepat, dunia semakin kecil dan semakin cepat pula. Apa kata dunia kalau sekolah saya masih mengajarkan how to?
Isu-isu seperti Building Information Modelling, Parametric Design, Generative Design, Geographic Information Modelling, Virtual Environment, harus sudah dikenalkan dan dapat menjadi salah satu perangkat mereka dalam memecahkan masalah desain. Lagipula, saya pikir tidak berarti CAD adalah mendesain bangunan secara fisik. Google Earth, SecondLife, adalah salah satu aplikasi CAD yang tidak secara fisik ada tetapi menjadi isu penting perkembangan virtual environment. Digital City Model dan Digital Urban adalah salah satu ranah yang sedang gencar diteliti saat ini.
Di sisi lain, ada SketchUp, Blender, bahkan Catia yang merupakan perangkat lunak yang sudah digunakan untuk menciptakan mulai dari objek sederhana hingga karya arsitektur yang hanya mungkin dibuat dengan bantuan komputer. Tentu saja menguasai program tersebut butuh waktu belajar dan waktu itu yang harus diusahakan baik oleh mahasiswa maupun oleh pengajarnya.Yang penting bukan penguasaanya, tapi hasilnya. Ini yang selama ini belum saya lihat. Ini yang harus ditunjang oleh pembelajaran di bidang lain : selera desain dan kualitas desain.
Mungkin waktu tidur kita-kita ini harus dikurangi, kalau tidak stigma CAD sebagai ‘Rotring‘ digital akan tetap melekat, kualitas dan selera desain tetap buruk, manajemen CAD tetap amburadul dan dunia semakin jauh di depan.

Advertisements

About this entry