Takeshita Dori dan Legian

Sabtu ini saya pergi ke Harajuku. Ya, salah satu kiblatnya para muda Jepang. Kalau mau lihat tren fashion Jepang terbaru (baca : teraneh) dan yang kemudian akan mewabah ke Indonesia (baca : Bandung dan Jakarta), kita bisa lihat di sini.

Pertama-tama, yang membuat saya bela-belain ke sini adalah karena Omote Sando. Boulevard lebar yang membelah kota Harajuku dan Stasiun JR . Omote Sando dulunya adalah jalan lebar yang digunakan untuk berziarah ke salah satu puri (“shrine”) terbesar di Jepang : Meiji Shrine. Dengan jalur pedestrian yang lebar di kanan-kiri jalan, dinaungi oleh pohon-pohon yang rindang. Sangat nyaman berjalan kaki sambil sesekali berhenti mengamati etalase toko, atau sekedar duduk-duduk dan mengistirahatkan kaki. Di sepanjang pedestrian saya melihat banyak atraksi menarik – terutama atraksi fashion anak muda Jepang. Saya baru tahu ada gaya Gothic, Lolita, Cult dan lain-lainnya. Yang jelas, kombinasi pakaian yang tak pernah saya bayangkan, ada di sini. Entah itu cocok dan tidak dengan perawakan sang pemakai, itu nomor dua, yang jelas penampilan nomor satu!

Penggemar Ratu dan Agnes Monica pasti akan menemukan sumber inspirasi mereka di sini dalam skala yang lebih ekstrem.

Oh ya, misi saya sebenarnya adalah mencari sesuatu yang khas Jepang atau khas Harajuku. Sepanjang jalan longok-longok ternyata sebagian besar outlet di Omote Sando diisi oleh butik-butik ternama yang pastinya tidak cocok dengan kantong mahasiswa. Saya kemudian mengikuti kerumunan turis asing (karena tidak bawa referensi, asal cabut saja) dan ternyata benar saja, ada satu jalan yang luar biasa ramai oleh pedestrian : Takeshita Dori

Saya tidak tahu apa yang membuat jalan ini luar biasa ramai. Sepintas, tipologinya mirip jalan-jalan sepanjang Legian, Kuta. Jalanan sempit dengan kanan-kiri outlet-outlet fashion, souvenir, atau apapun yang bisa menarik pengunjung. Cuma di sini bangunannya rata-rata dua atau tiga lantai. Di sini umumnya outlet menjual produk fashion. Dari mulai kaus kaki hingga topi. Dari mulai Lolita hingga Gothic Ekstrem juga ada. Menariknya juga, kita bisa masuk sampai ke pelosok-pelosok Takeshita dan melihat kontradiksi permukiman tradisional Jepang dengan outlet yang ultra modern. Seperti di Legian, di pelosok-pelosok jalanan kecil kita bisa menemukan outlet ‘Quiksilver’ atau ‘Ripcurl’.

Sejarah mengisahkan kalau Harajuku hingga pertengahan abad ini adalah wilayah transit para peziarah yang akan ke Meiji Shrine. Karena booming industri dan ekonomi Jepang di tahun 60-an hingga sekarang menyebabkan perubahan ekonomi di Harajuku. Perubahan ini dipicu oleh produk fashion. Tak heran bahkan stasiun JR Harajuku-pun masih meninggalkan refleksi tradisional.

Namun saya tidak menemukan apa yang saya cari di sini. Di samping ternyata harganya sama dengan di toko atau department store, umumnya style yang ditawarkan kalau tidak ekstrem, ya universal. Dimana-mana ada. Mungkin nanti saya akan jelajasi Ueno atau Shinjuku atau tempat lain.

Seperti juga di Bali, lihat-lihat boleh di Legian, tapi belinya di tempat lain. He..ha.ha

Baru sadar, onaka ga ittai desu alias perut saya sakit alias lapar . Saya akan cari kebab di sekitar sini.

Advertisements

About this entry